Dahulu kala, dahulu kala.

Hiduplah seorang putri di sebuah kastil tinggi. Menunggu seorang pangeran datang menyelamatkannya dari naga jahat. Hanya menunggu. Menunggu.

Jauh, jauh di negeri seberang, hiduplah seorang pangeran yang terlalu takut meninggalkan istananya. Terlalu takut.

Putri yang menunggu dan pangeran yang terlalu takut.

Terus begitu hingga beratus-ratus tahun.

Sepertinya akhir yang bahagia itu masih jauh dari mereka.

……

Dahulu kala, dahulu kala.

Hiduplah seorang siswi bernomor urut 19, di sebuah Sekolah Menengah Atas. Ia menyukai teman sekelasnya, siswa bernomor urut 26 yang duduk di bangku belakangnya.

Jauh, jauh di bangku belakang, hiduplah seorang siswa bernomor urut 26. Ia menyukai teman sekelasnya, siswi bernomor urut 19 yang duduk di bangku depannya.

Siswi bernomor urut 19 dan siswa bernomor urut 26, hanya mengetahui perasaan mereka masing-masing.

Terus begitu hingga pelajaran selesai, setiap hari.

Sepertinya akhir yang bahagia itu masih jauh dari mereka.

……

Dahulu kala, dahulu kala.

Hiduplah seorang wanita tua berbaju hitam. Ia meletakan seikat bunga lili putih di samping batu berukir nama seseorang. Seseorang yang telah mendampingi hidupnya selama berpuluh-puluh tahun.

Jauh, jauh dalam gelapnya tanah, tertidur lelaki tua berwajah pucat. Mati.

Wanita tua berbaju hitam dan lelaki tua berwajah pucat masih menunggu untuk bertemu sekali lagi.

Terus begitu hingga saatnya tiba.

Sepertinya akhir yang bahagia itu masih jauh dari mereka.

Notes

Comments (View)
blog comments powered by Disqus