Aku akan menceritakan kepadamu tentang sebuah bonsai…
Sebuah taman, sebuah bonsai. Bonsai yang ingin menjadi tumbuhan yang paling disukai oleh seluruh pengunjung taman. Setiap hari selasa, ia selalu bersiap menunggu petugas taman yang akan memotong ranting-rantingya.Begitu terus, berlangsung hingga bertahun-tahun.
Hingga suatu hari bonsai kejatuhan sebuah biji kecil. Bonsai lalu melihat ke atas, ternyata biji kecil itu berasal dari sebuah pohon besar yang selama ini menaunginya. Bonsai terdiam, ada sesuatu yang mengganggu proses fotosintesisnya siang itu. “Aku bisa saja menjadi pohon besar itu.” pikir bonsai. Bonsai menyadari bahwa semakin hari ia semakin melupakan dirinya sendiri. Setiap ranting yang dipotong dari dirinya membuatnya lupa akan bentuk aslinya.
Bonsai belum menjadi tanaman yang paling disukai di seluruh taman, ia hanya dipandang sebagai bonsai, salah satu jenis tanaman hias. Selalu dipotong dan dibatasi nutrisinya selama bertahun-tahun sempat membuatnya berpikir bahwa hal itu memang hal yang wajar, dan begitulah dia seharusnya.
Akhirnya, bonsai memutuskan untuk keluar dari pot yang bertahun-tahun membatasi akar-akarnya. Bonsai pergi meninggalkan taman, menuju sebuah hutan. Menolak untuk dijadikan kerdil, menolak untuk dipotong setiap hari selasa. Bonsai memilih untuk berpetualang di hutan, padang rumput, halaman rumah orang, di mana saja. Menjadi dirinya sendiri. Mungkin dia tidak akan menjadi tanaman yang paling disukai, tapi ia dapat menjadi lebih besar dan mampu menaungi lebih banyak benda-benda lain. Lebih dari itu, bonsai bisa berpetualang ke banyak tempat, bertemu banyak tanaman lain, bertemu manusia dan hewan, merasakan hujan, merasakan kekeringan, merasakan akarnya bebas menembus tanah, merasakan daun-daunnya dimakan kambing, merasakan lebah mengambil madu dari bunganya, merasakan proses pertumbuhan terjadi di tubuhnya, dan yang terpenting, melakukan itu semua dengan menjadi dirinya sendiri.
Tumbuhlah, keluarlah dari potmu, bonsai!
