Dots, Put your cursor on them.
click randomly, and hear the sound!
(Source: mandaflewaway)
miris liat orang-orang pergi ke tempat-tempat seperti ini hanya untuk foto-foto diri sendiri lalu pulang tanpa menikmati keindahan alamnya.
janji-janji yang saling bermusuhan
prioritas yang kadang menyesatkan
penyesalan yang sering terlambat
analisis yang terlalu banyak
ketidakpastian yang menggantung
asumsi yang menghalangi
keputusan yang selalu bersembunyi
waktu yang tak pernah menunggu
…
apa kamu masih ingin bermain teka-teki dengan mereka?
beri tau mendung tentang evaporasi,
agar ia tidak takut menurunkan hujan
Ketidakpastian itu apa harus ditakuti?
Apa kita harus khawatir atau cemas?
Cemas kenapa?
Karena ada resiko?
Apa resiko itu menyakitkan?
Mungkin kita diajari menghadapi ketidakpastian itu, mengeliminasi resiko yang ada.
Apa nantinya kita akan menyesal?
Apa disaat hidup ini berjalan dengan cukup baik, ada hal buruk yang sedang terjadi tanpa kita ketahui?
Atau,
Apa ada hal buruk setelah hal baik?
Hmm..bukankah Allah maha pemurah, kenapa berpikir seperti itu?
Yang ada bukanlah hal baik atau hal buruk, tapi berkah dan ujian.
Dan pada akhirnya semua akan menjadi berkah kan?
Karena ujian justru akan mendewasakan kita
Dan ingatlah, semua itu hanya titipan, jadi kenapa harus cemas?
- A: 14 keinginanmu akan terwujud malam ini gadis kecil.
- B: 14?
- A: ya, 14.
- B: kukira kau akan membawa 20. Kemarin kau bilang 20.
- A: aku memakai 4 di perjalanan tadi, dan yang 2 hilang entah kemana.
- B: hilang?
- A: ya, hilang.
- B: …
- A: 14 sudah cukup untukmu, kurasa.
- B: …
- A: hey, sudahlah! Sekarang katakan 14 keinginanmu!
- B: ambil saja 13 untukmu, aku hanya butuh 1.
- A: baiklah, apa yang kau minta?
- B: waktu.
Jangan bicara tentang kerelativan di depanku sekarang, aku sedang marah!
Hey, bukankah setiap orang punya ukurannya masing-masing.
Itu sudah cukup bagimu, tapi tidak baginya.
Itu sudah cukup baginya, tapi tidak bagimu.
Ke-cukup-an, setiap orang punya ukuran masing-masing tentang hal itu.
Tidak ada standar yang baku.
Setiap orang cenderung mengukur dengan ukurannya sendiri-sendiri.
Dan terkadang itu berbenturan.
Bertabrakan.
Lalu apa solusinya?
Bicarakan.
Buat standar untuk tingkat kecukupan yang berbeda itu.
Dan sepakati.
Berikanlah ruang pada sudut pandang yang berbeda itu.
Sekarang, apa kamu masih marah?

